Ada baiknya seusai ujian yang menimbukan penat, kita kabur dan memelihara pikiran kita sejenak. Entah menghirup udara tak kenal polusi di hutan, menikmati butir pasir di sela jari kaki, maupun makan di restoran favoritmu bisa menjadi ide yang bagus untuk mengistirahatkan diri. Seusai UTS kali ini, Gitapala memilih untuk melarikan diri ke pantai sekaligus mengenal para calon anggota dan belajar melakukan hal kecil untuk menjaga bumi.
Pada 12 Oktober 2019, Gitapala dan peserta Fun Camping berangkat dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM pada pukul 16.00. Rombongan yang terdiri dari satu mobil dan tujuh motor membelah jalanan Yogyakarta yang sedang macet-macetnya. Saat itu, harapan melihat matahari terbenam harus dibayar di jalan karena waktu keberangkatan yang terlalu larut. Kami tiba di Pantai Cangkring ketika hari sudah gelap dan angin malam menggeroti kami dengan ancaman masuk angin.
Sepoi angin yang membekukan telinga larut kala kami mulai menyusun tenda. Alat gerak yang bekerja, mulut yang bercanda, hati yang gembira menjadi api unggun awal bagi kami. Sekitar pukul 19.00, tenda selesai dibangun dan alat masak dikeluarkan.Tim terbagi secara alami untuk membuat pengisi perut. Para laki-laki, seperti Ilham, Farel, Mas Abdul, Mas Lilik, dan Rama, berusaha menyalakan api unggun. Husna, Lia, Ira, Farhan, Ricky, dan Ari membuat minuman yang menghangatkan tubuh. Nisa, Dysek, Jayu, Nana, Farel, dan calon anggota seperti Indri, Farras, Fela, dan Bella menghabiskan waktu untuk bercanda dan menjaga sate bakso, sosis, dan ayam bakar agar tidak gosong. Mas Bibi, Mbak Gina, dan Mas Bagas menjadi tim hura dengan cara mengadakan konser akustik. Kami juga kedatangan tamu spesial yakni para senior dari Gitapala. Mbak Gamma, Mas Angga, Mas Agung dan adik-adiknya, Mas Mandala, serta Mas Iswanto menambah hangatnya malam di pantai itu.
Ketika hari makin larut, kami duduk melingkar menghadap api unggun. Makanan sudah tersaji dan siap mengisi perut kami yang lapar. Menu hari itu cukup spesial, yakni nasi putih, sate sosis-bakso bakar, ayam bakar, dan telur balado. Semua menikmati makanan ditemani canda dan tawa. Malam itu, (semoga) senyum kita adalah kebahagiaan yang dari Semesta.
Acara selanjutnya adalah PDKT (eh?). Tidak dengan cara romantis lho ya, tidak semua hal di dunia ini harus diartikan sebagai sebuah kebucinan. PDKT yang dimaksud adalah antar angkatan, dimana angkatan tua dan angkatan muda yang masih segar dan menggemaskan saling mengenal. Semua anggota Gitapala dan peserta saling memperkenalkan diri dengan caranya masing-masing, beberapa menimbulkan gelagak tawa. Contoh Mas Is yang menyamarkan identitas sehingga spontan yang mengenalnya langsung terkikik. Setelah itu, anggota Luar Biasa dan Anggota Penuh angkatan atas memberikan sharing. Mulai dari pengalaman diksar, pengalaman berkegiatan di alam, sampai cerita-cerita lucu. Di saat itu calon anggota Gitapala Gaharu juga memberikan pertanyaan kepada para senior. Malam yang hangat itu berakhir sekitar tengah malam ketika peserta muda mulai tumbang. Tetapi malam tetap dilanjutkan dengan acara musikan dan main kartu.
Keesokan paginya, peserta bangun dalam jam yang berbeda dan melakukan kegiatan yang berbeda. Ada yang menikmati sunrise, ada yang mengais tas untuk mencari makanan, bahkan ada yang mengerjakan laporan. Namun setelahnya, kami dikumpulkan di pantai untuk melakukan pemanasan sebelum bersih-bersih pantai.
Salah satu kegiatan yang dijadwalkan dalam Fun Camping ini adalah bersih-bersih pantai. Hal ini dilakukan agar status sebagai ‘pecinta alam’ lebih afdol. Bukan hanya sebatas menikmati keindahan alam raya, namun juga menjaga kelestariannya. Peserta dibagi menjadi empat sampai lima tim untuk menyusuri pantai, beberapa ke Barat dan yang lain ke Timur. Saat melakukan bersih pantai, kami menemukan fakta menyedihkan bahwa banyak orang belum sadar bahwa pantai merupakan kenampakan ciptaanNya yang perlu dijaga. Kami menemukan bungkus makanan, punting rokok, dan sampah-sampah kecil lain yang sebenarnya mudah untuk dibawa dan dibuang. Sesuai mengumpulkan sampah, kami memindahkan sampah-sampah tersebut ke tempatnya. Padahal edukasi untuk membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kelestarian alam adalah sesuatu yang sudah kita kenal sejak di bangku sekolah dasar. Apa yang membuat sampah masih banyak? Manusia yang kurang edukasi atau terlalu cuek terhadap Alam Raya yang telah memberikan segala? Semoga saja, masyarakat semakin sadar bahwa mencintai lingkungan dan mengusahakan kelestariannya adalah sebuah urgensi.
Seusai membersihkan pantai, kami mengudap sarapan dan siap untuk bermain games. Games yang dilakukan bertujuan untuk mengakrabkan, melatih kekompakan, dan tentu saja ben gayeng. Peserta nampak menikmati games dengan hati gembira.
Kegiatan seusai bermain games tak kalah serunya, yakni bersih-bersih dan packing pulang. Tidak sabar rasanya kembali ke kasur untuk segera beristirahat. Namun, lebih penting untuk memastikan tidak ada barang tertinggal dan juga menjaga kebersihan pantai. Masa kita mengadakan bersih-bersih pantai, tapi tempat camp kita meninggalkan banyak sampah?
Camp sudah bersih, tenda selesai dipacking, dan barang sudah diangkut ke dalam mobil sekitar pukul 12.00. Setelah itu peserta dan panitia dikumpulkan di depan ikon Pantai Cangkring untuk berfoto bersama. Setelah dua atau tiga kali jepretan, kami melaksanakan doa agar selamat sampai ke FTP tercinta. Syukurlah, perjalanan berlangsung lancar walau terik berambisi menggosongkan kulit.
Sangat mengasyikan bukan liburan Gitapala kali ini? Di kesempatan selanjutnya, jangan sampai tidak hadir ya!